|
|
|
Mukjizat Ilmiah dalah Hadits-hadits Rasul saw tentang Habbatussauda'
Nabi saw mengabarkan bahwa habbatussauda berkhasiat menyembuhkan setiap penyakit. Kata syifa' (kesembuhan) dalam seluruh hadits disebut tanpa dima'rifahkan dengan alif dan lam. Semuanya juga dalam struktur kalimat positif, sehingga dengan demikian kata tersebut bersifat nakiroh (indefinite, tidak spesifik) yang biasanya bermakna umum. Selanjutnya, kita bisa mengatakan bahwa dalam habbatussauda terdapat potensi penyembuhan terhadap setiap penyakit.
Dari penjelasan mengenai kerja sistem kekebalan, telah terbukti bahwa ia merupakan satu-satunya sistem yang diperlengkapi dengan senjata spesifik untuk menumpas setiap penyakit. Setelah menelan dan menghancurkan bakteri-bakteri penyerang, sel-sel pemakan segera memampang potongan-potongan bakteri yang telah hancur itu (antigenic) di atas permukaannya, kemudian mengikatkan diri pada limfosit untuk mengenalkan struktur mikroba tersebut hingga sedetail-detailnya, sehingga menstimulasi sel-sel B dan sel-sel T untuk memproduksi antibodi atau sel-sel T spesifik bagi antigen yang memicu produksi keduanya.
Dinding-dinding sel-sel B memiliki sekitar 100 ribu bagian anti bodi yang bereaksi berdasarkan spesifikasi sangat akurat terhadap jenis spesifik antigen pada mikroba yang menyebabkannya. Demikian halnya sel-sel T, dimana reseptor-reseptor protein pada permukaan dinding sel-sel T yang disebut indikator sel-sel T (T cell marker) benar-benar bersesuaian dengan antibodi. Antibodi-antibodi dan sel-sel T spesifik tersebut menyatu secara sempurna dengan antigen mikroba sehingga melumpuhkan aktivitasnya dan menghancurkannya. Selanjutnya, kekebalan ini merupakan kekebalan spesifik untuk setiap organisme asing yang terdapat dalam tubuh, dimana masing-masing penyakit memiliki penyembuh sendiri yang bersesuaian.
Karena, hingga sekarang tidak ada zat formulatif maupun zat tunggal di permukaan bumi ini-sepanjang pengetahuan kita-yang memiliki khasiat mampu menghilangkan seluruh penyebab penyakit dan menghilangkan seluruh penyakit sebagaimana efek yang dimiliki oleh sistem kekebalan. Maka dari itu, kita bisa mengatakan bahwa sistem kekebalan merupakan satu-satunya sistem yang mampu memberikan penyembuhan terhadap setiap penyakit secara riil dan meyakinkan, karena kandungan "sistem kekebalan spesifik" atau "sistem kekebalan didapat" yang mampu membentuk antibodi-antibodi dan memproduksi senjata-senjata sel-sel pembunuh dan penghancur spesifik bagi setiap organisme penyebab penyakit.
Sistem ini, sebagaimana sistem-sistem lainnya, kadang mengalami kerusakan, gangguan, dan penyakit. Kadang-kadang ia bekerja secara maksimal sesuai dengan kemampuan dan kapabilitasnya; kadang kurang dari itu, sesuai dengan kondisi kesehatannya dan kesehatan unsur-unsur pembentuknya. Selam sistem kekebalan ini bekerja secara normal, maka tubuh ini akan sehat dan mampu menumpas setiap penyakit. (Makna"penyakit" ini bisa penyakit itu sendiri atau penyebabnya).
Ketika ada bahan yang diciptakan oleh Alloh untuk mengaktifkan, menguatkan, atau memperbaiki kerusakan yang terjadi pada sistem ini, maka bahan tersebut boleh disifati dengan sifat sistem itu sendiri. Selain itu, telah terbukti bahwa habbatussauda mampu meningkatkan aktivitas "kekebalan spesifik" atau "kekebalan didapat" dengan cara mengingkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel-sel T penekan, dan sel-sel T pembunuh alami; dimana kesemuanya termasuk golongan limfosit yang sangat spesifik dan akurat, sampai mendekati 75% dalam riset El-Kadi.
Fakta ini dikuatkan oleh riset-riset lain yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah yang menunjukkan terjadinya perbaikan kualitas limfosit pembantu dan fagosit, peningkatan jumlah interferon, serta perbaikan daya kekebalan seluler. Perbaikan kualitas pada sistem kekebalan itu membias pada terjadinya efek destruktif yang ditimbulkan oleh ekstrak habbatussauda terhadap sel-sel kanker dan beberapa virus, serta perbaikan terhadap pengaruh infeksi cacing bilharzia.
Oleh karena itu, kita bisa menegaskan bahwa habbatussauda memiliki khasiat penyembuhan terhadap setiap penyakit, karena ia memperbaiki dan menguatkan sistem kekebalan; suatu sistem yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan setiap penyakit dan bereaksi terhadap setiap penyebab penyakit, serta bisa memberikan penyembuhan total atau parsial bagi setiap penyakit. Penyebutan kata syifa' dalam berbagai hadits dalam bentuk nakiroh juga menguatkan kesimpulan ini; dimana tingkat kesembuhan tersebut berbeda-beda, tergantung pada kondisi sistem kekebalan, jenis penyakit, penyebabnya, dan stadiumnya.
Dengan demikian, keumuman yang disebutkan dalam hadits tersebut bisa dipahami dan sudah sesuai dengan pendapat para pensyarah hadits sebagaimana di atas. Demikianlah, fakta ilmiah mengenai hadits-hadits mulia ini telah terungkap, yang tentunya tidak ada seorang pun di masa lalu yang mengetahuinya; apalagi mengucapkan dan menyampaikannya kepada orang lain sejak lebih dari 14 abad silam, kecuali bila ia seorang nabi yang diutus oleh Alloh serta menerima wahyu dariNya yang Maha Tahu tentang rahasia-rahasia makhluk-makhlukNya , Maha Benar Alloh yang berfirman: "Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan."(An-Najm [53]:3-4)
Nabi saw mengabarkan bahwa habbatussauda berkhasiat menyembuhkan setiap penyakit. Kata syifa' (kesembuhan) dalam seluruh hadits disebut tanpa dima'rifahkan dengan alif dan lam. Semuanya juga dalam struktur kalimat positif, sehingga dengan demikian kata tersebut bersifat nakiroh (indefinite, tidak spesifik) yang biasanya bermakna umum. Selanjutnya, kita bisa mengatakan bahwa dalam habbatussauda terdapat potensi penyembuhan terhadap setiap penyakit.
Dari penjelasan mengenai kerja sistem kekebalan, telah terbukti bahwa ia merupakan satu-satunya sistem yang diperlengkapi dengan senjata spesifik untuk menumpas setiap penyakit. Setelah menelan dan menghancurkan bakteri-bakteri penyerang, sel-sel pemakan segera memampang potongan-potongan bakteri yang telah hancur itu (antigenic) di atas permukaannya, kemudian mengikatkan diri pada limfosit untuk mengenalkan struktur mikroba tersebut hingga sedetail-detailnya, sehingga menstimulasi sel-sel B dan sel-sel T untuk memproduksi antibodi atau sel-sel T spesifik bagi antigen yang memicu produksi keduanya.
Dinding-dinding sel-sel B memiliki sekitar 100 ribu bagian anti bodi yang bereaksi berdasarkan spesifikasi sangat akurat terhadap jenis spesifik antigen pada mikroba yang menyebabkannya. Demikian halnya sel-sel T, dimana reseptor-reseptor protein pada permukaan dinding sel-sel T yang disebut indikator sel-sel T (T cell marker) benar-benar bersesuaian dengan antibodi. Antibodi-antibodi dan sel-sel T spesifik tersebut menyatu secara sempurna dengan antigen mikroba sehingga melumpuhkan aktivitasnya dan menghancurkannya. Selanjutnya, kekebalan ini merupakan kekebalan spesifik untuk setiap organisme asing yang terdapat dalam tubuh, dimana masing-masing penyakit memiliki penyembuh sendiri yang bersesuaian.
Karena, hingga sekarang tidak ada zat formulatif maupun zat tunggal di permukaan bumi ini-sepanjang pengetahuan kita-yang memiliki khasiat mampu menghilangkan seluruh penyebab penyakit dan menghilangkan seluruh penyakit sebagaimana efek yang dimiliki oleh sistem kekebalan. Maka dari itu, kita bisa mengatakan bahwa sistem kekebalan merupakan satu-satunya sistem yang mampu memberikan penyembuhan terhadap setiap penyakit secara riil dan meyakinkan, karena kandungan "sistem kekebalan spesifik" atau "sistem kekebalan didapat" yang mampu membentuk antibodi-antibodi dan memproduksi senjata-senjata sel-sel pembunuh dan penghancur spesifik bagi setiap organisme penyebab penyakit.
Sistem ini, sebagaimana sistem-sistem lainnya, kadang mengalami kerusakan, gangguan, dan penyakit. Kadang-kadang ia bekerja secara maksimal sesuai dengan kemampuan dan kapabilitasnya; kadang kurang dari itu, sesuai dengan kondisi kesehatannya dan kesehatan unsur-unsur pembentuknya. Selam sistem kekebalan ini bekerja secara normal, maka tubuh ini akan sehat dan mampu menumpas setiap penyakit. (Makna"penyakit" ini bisa penyakit itu sendiri atau penyebabnya).
Ketika ada bahan yang diciptakan oleh Alloh untuk mengaktifkan, menguatkan, atau memperbaiki kerusakan yang terjadi pada sistem ini, maka bahan tersebut boleh disifati dengan sifat sistem itu sendiri. Selain itu, telah terbukti bahwa habbatussauda mampu meningkatkan aktivitas "kekebalan spesifik" atau "kekebalan didapat" dengan cara mengingkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel-sel T penekan, dan sel-sel T pembunuh alami; dimana kesemuanya termasuk golongan limfosit yang sangat spesifik dan akurat, sampai mendekati 75% dalam riset El-Kadi.
Fakta ini dikuatkan oleh riset-riset lain yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah yang menunjukkan terjadinya perbaikan kualitas limfosit pembantu dan fagosit, peningkatan jumlah interferon, serta perbaikan daya kekebalan seluler. Perbaikan kualitas pada sistem kekebalan itu membias pada terjadinya efek destruktif yang ditimbulkan oleh ekstrak habbatussauda terhadap sel-sel kanker dan beberapa virus, serta perbaikan terhadap pengaruh infeksi cacing bilharzia.
Oleh karena itu, kita bisa menegaskan bahwa habbatussauda memiliki khasiat penyembuhan terhadap setiap penyakit, karena ia memperbaiki dan menguatkan sistem kekebalan; suatu sistem yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan setiap penyakit dan bereaksi terhadap setiap penyebab penyakit, serta bisa memberikan penyembuhan total atau parsial bagi setiap penyakit. Penyebutan kata syifa' dalam berbagai hadits dalam bentuk nakiroh juga menguatkan kesimpulan ini; dimana tingkat kesembuhan tersebut berbeda-beda, tergantung pada kondisi sistem kekebalan, jenis penyakit, penyebabnya, dan stadiumnya.
Dengan demikian, keumuman yang disebutkan dalam hadits tersebut bisa dipahami dan sudah sesuai dengan pendapat para pensyarah hadits sebagaimana di atas. Demikianlah, fakta ilmiah mengenai hadits-hadits mulia ini telah terungkap, yang tentunya tidak ada seorang pun di masa lalu yang mengetahuinya; apalagi mengucapkan dan menyampaikannya kepada orang lain sejak lebih dari 14 abad silam, kecuali bila ia seorang nabi yang diutus oleh Alloh serta menerima wahyu dariNya yang Maha Tahu tentang rahasia-rahasia makhluk-makhlukNya , Maha Benar Alloh yang berfirman: "Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan."(An-Najm [53]:3-4)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar